MANGROVE  DALAM UPAYA MENANGANI ABRASI DAN PENGELOLAAN PANTAI 1)

Oleh

CECEP KUSMANA 2)

Hutan mangrove merupakan salah satu bagian dari ekosistem pantai (pesisir).  Tipe hutan ini beserta tipe-tipe ekosistem lainnya (padang lamun, terumbu karang, estuaria, dll) saling berinteraksi dalam upaya memelihara produktifitas perairan pantai dan kestabilan habitat/lingkungan pantai yang bersangkutan.

Seperti dipertegas oleh Saenger et al. (1981), hutan mangrove sebagai suatu ekosistem mempunyai berbagai fungsi/peranan yang dapat dikategorikan kedalam tiga jenis kelompok fungsi, yakni : (1) fungsi fisik, (2) fungsi biologis/ekologis, dan (3) fungsi ekonomis, yang secara komprehensif diuraikan dibawah ini.

A.        Fungsi Fisik dari Ekosistem Mangrove

(1)       Mengendalikan abrasi pantai

Pengendalian abrasi pantai oleh ekosistem mangrove terjadi melalui mekanisme pemecahan energi kinetik gelombang air laut dan pengurangan jangkauan air pasang ke daratan, seperti telah dibuktikan oleh penelitian yang dilakukan Suryana (1998) di pantai utara pulau Jawa yang mana abrasi pantai relatif tidak terjadi pada lokasi yang ditumbuhi mangrove dengan lebar ³ 100 m

(1)       Mengurangi tiupan angin kencang dan terjangan gelombang laut

Keberadaan tegakan mangrove secara signifikan dapat mengurangi kecepatan tiupan angin dan kecepatan arus gelombang air laut (Aksornkoae, 1993).  Dalam hal ini Suryana (1998) melaporkan bahwa daya jangkauan air pasang berkurang sampai lebih dari 60 % pada lokasi dengan lebar hutan mangrove ³ 100 m.

Hasil pengujian model di laboratorium oleh Puslitbang PU (1996) seperti yang dikutip oleh Istianto, Utomo dan Suranto (2003) menginformasikan bahwa adanya pengurangan limpasan sebesar 2 % – 5% pada  model setara dengan rumpun prototipe yang memiliki diameter pohon 50 cm dan jarak antara 2.5 m.   Selain itu,  diinformasikan bahwa jarak tanam dengan susunan selang-seling memberikan redaman yang lebih baik dibandingkan dengan susunan kolom baris.  Selanjutnya diinformasikan pula bahwa rumpun bakau (Rhizophora)  memantulkan,  meneruskan, dan menyerap energi gelombang tsunami yang diwujudkan dalam perubahan tinggi gelombang ketika menjalar melalui rumpun tersebut (Thaha, 2001 dalam Istiyanto, Utomo dan Suranto, 2003).   Hasil ini dipertegas oleh penelitian Pratikto et al. (2002) di Teluk Grajagan, Banyuwangi yang menunjukkan bahwa keberadaan ekosistem mangrove di daerah tersebut mampu mereduksi energi gelombang sebesar 73 % dan tinggi gelombang sebesar 75 % pada jumlah pohon sekitar 120 individu.

Fakta menunjukkan bahwa tsunami tidak memberikan kerusakan yang berarti pada daerah yang memiliki hutan pantai dan hutan mangrove yang lebat di NAD dan Nias,  sedangkan kerusakan berat terjadi pada daerah yang tidak memiliki hutan mangrove dan hutan pantai yang baik (Onrizal, 2005).  Desa Moawo dan Desa Pasar Lahewa yang terletak di pantai utara Nias merupakan contoh daerah yang selamat dari terjangan tsunami.  Kedua daerah tersebut memiliki hutan mangrove yang sangat rapat,  dimana kerapatannya sekitar 17.000 – 20.700 individu per hektar untuk tumbuhan mangrove berdiameter > 2 cm dan tinggi > 1,5 m dengan lebar mangrove antara pemukiman dan pantai sekitar 200 m atau lebih.  Masyarakat di kedua desa tersebut meyakini bahwa desa mereka selamat dari tsunami karena terlindung oleh hutan mangrove meskipun pada saat tsunami rumah mereka terendam air sekitar 2 – 3 m namun airnya tenang.  Pada sisi lain daerah Manrehe dan Sirombu di pantai barat Nias yang daerahnya telah dikonversi menjadi kebun kelapa dengan jarak tanamnya sekitar 6 x 6 m dan berupa lahan kosong;  kerusakannya sangat berat.  Hasil survey WI-IP (2005) dalam Onrizal (2005) mengemukan bahwa di NAD kerusakan berat terjadi pada pesisir pantai yang tidak memiliki hutan mangrove dan hutan pantai yang rapat,  namun kerusakan sangat sedikit pada daerah yang memiliki hutan pantai dan hutan mangrove yang lebat.  Salah satu contoh adalah desa Ladang Tuha, Aceh Selatan yang selamat dari terjangan tsunami karena memiliki hutan pantai yang didominasi oleh pohon cemara yang lebat.

(2)       Menyerap dan mengurani bahan pencemar (polutan) dari badan air baik melalui penyerapan polutan tersebut oleh jaringan anatomi tumbuhan mangrove maupun menyerap bahan polutan yang bersangkutan dalam sedimen lumpur (IUCN & E/P Forum, 1993).

Kemampuan vegetasi mangrove dalam menyerap bahan polutan (dalam hal ini logam berat) telah dibuktikan oleh Darmiyati et al. (1995), yang mana jenis Rhizophora mucronata dapat menyerap lebih dari 300 ppm Mn, 20 ppm Zn, dan 15 ppm Cu.  Begitu pula Saepulloh (1995) membuktikan bahwa pada daun Avicennia marina ditemukan akumulasi Pb sebesar ³ 15 ppm, Cd³ 0,5 ppm, dan Ni ³ 2,4 ppm.

(3)       Mempercepat laju sedimentasi yang akhirnya menimbulkan tanah timbul sehingga daratan bertambah luas.

Hasil analisis sedimentologi menunjukkan bahwa pada habitat Rhizophora spp. dan Avicennia spp. kandungan lumpur mencapai 61 %, sedangkan sisanya berupa pasir dan kerikil (Sediadi, 1990).  Selanjutnya Suryana (1998) melaporkan bahwa tanah timbul di pantai utara pulau Jawa hanya dijumpai didepan hutan mangrove dengan fenomena semakin lebar mangrove semakin lebar pula tanah timbulnya dengan perimbangan ratio rataan sekitar 5 m tanah timbul per 1 m lebar mangrove.

(4)       Mengendalikan intrusi air laut

Fungsi ini terjadi melalui mekanisme sebagai berikut :

a)      Pencegahan pengendapan CaCo3 oleh badan eksudat akar.

b)      Pengurangan kadar garam oleh bahan organik hasil dekomposisi serasah.

c)      Peranan fisik susunan akar mangrove yang dapat mengurangi daya jangkauan air pasang ke daratan.

d)     Perbaikan sifat fisik dan kimia tanah melalui dekomposisi serasah.

Hilmi (1998) melaporkan bahwa percepatan intrusi air laut di pantai Jakarta meningkat drastis dari 1 km pada hutan mangrove selebar 0,75 m menjadi 4,24 km pada lokasi tanpa hutan manrove.  Secara teoritis diperkirakan percepatan intrusi air laut meningkat 2 – 3 kali pada lokasi tanpa hutan mangrove.

B.         Fungsi Biologis dari Ekosistem Mangrove

(1)       Tempat tumbuh berbagai jenis tumbuhan dan fauna

Umali et al (1987) dalam Kusmana (1997)melaporkan adanya sekitar 130 jenis tumbuhan yang idup d habitat mangrove, baik berupa major component of mangrove, minor component of mangrove maupun mangrove associates.  Secara umum hutan mangrove di kawasan Asia-Pasifik didominasi oleh genera Rhizophora, Bruguiera, Avicennia, dan Sonneratia.

Fauna yang hidup di ekosistem mangrove terdiri atas fauna daratan dan fauna laut.

Fauna daratan, baik yang bersifat temporari maupun permanen menetap di mangrove, terdiri atas : (a) burung (Anhinga anhinga, Egretta spp, dll), (b) amphibia (Rana spp), (c) reptilia (Crocodilus porosus, Varanus salvator, dll), (d) mamalia (Nasalis larvatus, Macaca irus, Presbytis cristus, dll), dan (e) serangga (Aedes spp, Anopheles spp, Culicoides spp)

Fauna laut terdiri atas : (a) infauna yang hidup di lobang-lobang dalam tanah yang didominasi oleh Crustaceae dan Bivalvia, (b) epifauna yang mengembara diatas permukaan tanah yang didominasi oleh Moluska (kerang-kerangan, Gastropoda) dan kepiting.

(2)       Sebagai tempat asuban (nursery ground), dan tempat mencari makan (feeding ground) bagi berbagai jenis ikan, krustase dan moluska.

Mangrove (disamping padang lamun) merupakan penyedia sumber makanan (food source) utama bagi berbagai jenis ikan, udang, dan kepiting yang idup di ekosistem pesisir melalui guguran serasah dari tumbuhan mangrove (terutama daun) yang mati.  Sebagian kecil serasah yang jatuh di lantai hutan akan langsung dimakan oleh kepiting dan sebagian besar akan didekomposisi menjadi detritus oleh mikroba yang menjadi sumber makanan bagi detrivora, yang selanjutnya detrivora tersebut menjadi sumber makanan bagi karnivora.

Secara normal produktivitas mangrove berkisar antara 10,00 ton/ha/th sampai 14,00 ton/ha/th yang mana sekitar 50 % dari serasah tersebut diekspor ke perairan pantai lepas (Department of Forestry, 1997) dan sekitar 90 % masuk kedalam jaring-jaring pangan (UNEP, 1985).

Pentingnya mangrove dan padang lamun bagi produktvitas perairan pantai telah dilaporkan oleh Adam et al (1973) bahwa 75 – 90 % dari berbagai jenis ikan bergantung pada habitat estuaria untuk menyelesaikan paling sedikit sebagian dari penyelesaian siklus hidupnya, yang mana sebagian besar food source dari estuaria tersebut berasal dari mangrove dan padang lamun.

C. Fungsi Ekonomis dari Ekosistem Mangrove

Fungsi ekonomis dari ekosistem mangrove berasal dari :

(1)       Kayu

Dalam skala komersial, berbagai jenis kayu mangrove dapat digunakan sebagai : (a) chips, terutama jenis Rhizophora spp dan Bruguiera spp, (b) penghara industri papan dan plywood terutama jenis Bruguiera spp dan Heritiera littoralis, (c) scalfold terutama jenis Rhizophora apiculata, Bruguiera spp dan Ceriops spp, dan (d) kayu bakar dan arang yang berkualitas tinggi terutama dari Rhizophora spp.

(2)       Hasil hutan bukan kayu, seperti madu, obat-obatan, tanin, minuman. Ikan/udang/kepiting, dll

(3)       Rekreasi seperti halnya hutan rekreasi mangrove di Cilacap, Jawa Tengah.

Sebagai ilustrasi besarnya manfaat ekonomis dari ekosistem mangrove, pada Tabel 1 disajikan manfaat langsung dari ekosistem mangrove di Batu Ampar Kalimantan Barat.  Tabel 1 menunjukkan bahwa masyarakat lokal mendapatkan manfaat (pendapatan) yang cukup besar dari ekosistem mangrove dengan efisiensi usaha diatas 70 % tanpa merusak hutan.

Tabel 1.  Nilai Manfaat Langsung Ekosistem Hutan Mangrove Batu Ampar Kalimantan Barat.

Jenis Manfaat Nilai Manfaat (Rp/th) Biaya (Rp/th) % Manfaat Bersih (Rp/th) %
Potensi Kayu 60.688.525.900 18.206.553.600 30 42.481.972.300 70
Arang 1.367.871.200 512.729.300 37 855.141.900 63
Daun Nipah 98.205.184 16.874.352 17 81.330.832 83
Bibit Mangrove 100.677.700 21.072.400 21 79.695.300 79
Ikan 1.534.309.800 498.050.900 32 1.036.258.900 68
Udang 8.486.116.800 784.210.200 9 7.701.906.600 91
Kepiting 2.920.904.300 829.454.700 28 2.091.449.600 72
Jumlah 75.196.610.884 20.868.945.452 28 54.327.665.432 72

DAFTAR PUSTAKA

Department of Forestry. 1997.  national Strategy of Mangrove Management in Indonesia.  Department of Forestry of Republic Indonesia.  Jakarta.

UNEP.  1985.  Ecological Interactions Between Tropical Coastal Ecosystems.  UNEP Regional Seas Reports and Studios No. 75.

Aksornkoae, S.  1993.  Ecological and Management of Mangroves.  The IUCN Wetlands Programme, Switzerland.

Hilmi, E.  1998.  Penentuan Lebar Jalur Hijau Hutan Mangrove Melalui Pendekatan Sistem (studi kasus di hutan Muara Angke Jakarta).  Thesis .  Pascasarjana IPB.  Bogor.

Istiyanto, D.C., S.K. Utomo, dan Suranto.  2003.  Pengaruh Rumpun Bakau Terhadap Perambatan Tsunami di Pantai.  Makalah pada Seminar Nasional:  Mengurangi Dampak Tsunami; Kemungkinan Penerapan Hasil Riset. Di Yogyakarta, 11 Maret 2003.

Onrizal.  2005.  Peranan Hutan Mangrove dan Hutan Pantai Sebagai Pelindung Pantai dari Tsunami.  Makalah disampaikan pada Lokakarya Rehabilitasi Hutan Mangrove dan Hutan Pantai Pasca Tsunami di Hotel Emerald Garden, Medan pada tanggal 9 April 2005.

Saenger, P., E. J. Hegert, and J. D. S. Davie.  1983.  Global Status of Mangrove Ecosystem.  IUCN Commission on Ecology Paper No. 3, Glavd, Switzerland.`

Salmah, C. Kusmana, D. Darusman.  2001.  Evaluasi Ekonomi Hutan Mangrove di Batu Ampar Kalimantan Barat.  Thesis Program Studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan-Program Pascasarjana IPB.  Tidak Diterbitkan

Suryana, Y., Nur. H. S, Hilmi, E.  1998.  Hubungan antara Keberadaan Lebar Jalur Mangrove dengan Kondisi Biofisik Ekosistem Mangrove.  Fakultas Kehutanan UNWIM Bandung.

Saepulloh, C.  1995.  Akumulasi Logam Berat (Pb, Co, Ni) Pada Jenis Avicennia marina di Hutan Lindung Angke Kapuk DKI Jakarta.  Skripsi.  Fakultas Kehutanan IPB.

1)      Disampaikan dalam Semiloka Program Mitra Bahari (PBM) sub RC Kalimantan Barat,  Pontianak, 15 November 2005

2) Guru Besar Pada Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor

Tags: , ,

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.